Sabtu, 07 Mei 2011

ASKEP DISLOKASI

LAPORAN PENDAHULUAN
DISLOKASI


1. Pengertian.
Dislokasi adalah keluarnya ( bercerainya ) kepala sendi dari mangkoknya. Dislokasi merupakan suatu kedaruratan yang memerlukan pertolongan segera, apabila salah satu / beberapa tulang yang berhubungan dengan sendi yang mengalami dislokasi itu patah maka keadaan itu disebut “ Dislokasi Fraktur” dari pada sendi yang bersangkutan.

2. Etiologi.
1) Adanya trauma.
2) Kongenital, sebagian anak dilahirkan dengan dislokasi, misalnya dislokasi pangkal paha.
3) Patologis, akibat destruksi tulang, misalnya tuberkullosis tulang belakang.

3. Patofisiologi.
Bila luka yang disebabkan oleh trauma cukup parah sehingga merusak jaringan ligamentum dan kapsula maka dapat mengalami suatu dislokasi dan pindah dari letaknya semula. Jaringan saraf dan pembuluh darah yang berdekatan dapat terganggu maka kerusakan vertebra servikalis, medula spinalis dapat mengalami kerusakan atau saraf untuk muskulus deltoideus dapat terganggu bila ada dislokasi bahu. Apabila salah satu / beberapa tulang yang berhubungan dengan sendi yang mengalami dislokasi itu patah, maka keadaan itu disebut “ Dislokasi Fraktur “  dari pada sendi yang bersangkutan. Pada suatu subluxatio, kerusakan ligamentum dan kepala kapsula tidaklah menyeluruh dan derajat perubahan letak tidak seberat dislokasi sebenarnya ( Cth: Subluxatio partil pada artikulasio akromio / klavikularis)

4. Manifestasi Klinik.
1) Deformitas pada persendian … kalau sebuah tulang diraba secara biasa sering terdapat suatu celah.
2) Gangguan gerakan … otot-otot tidak dapat bekerja dengan baik pada tulang tersebut.
3) Pembengkakan … pembengkakan dapat parah pada kasus trauma dan dapat menutupi depormitasnya.
4) Rasa nyeri dan juta didapat kasus-kasus trauma.
5) Functio Laesa misalnya bahu tidak dapat endorotasi, fleksi dan adduksi.

5. Pemeriksaan Penunjang.
Pemeriksaan radiologi untuk memastikan arah dislokasi dan apakah disertai fraktur.

6. Penatalaksanaan.
1) Lakukan  reposisi segera.
2) Dengan manipulasi secara hati-hati permukaan sendi diluruskan kembali. Tindakan ini sering dilakukan anestesi umum untuk melemaskan otot-ototnya.
3) Dislokasi sendi :
Dislokasi sendi kecil dapat direposisi ditempat kejadian tanpa anestesi. Misalnya dislokasi jari ( pada fase shock ), dislokasi siku, dislokasi bahu.
Dislokasi sendi besar. Misalnya panggul memerulukan anestesi umum.
4) Fisioterapi harus segera mulai untuk mempertahankan fungsi otot dan latihan yang aktif dapat diawali secara dini untuk mendorong gerakan sendi yang penuh, khususnya pada sendi bahu.
5) Tindakan pembedahan harus dilakukan bila terdapat tanda-tanda gangguan neumuskular yang berat/ jika tetap ada gangguan vaskuler setelah reposisi tertutup berhasil dilakukan secara lembut. Pembedahan terbukan mungkin diperlukan, khususnya kalau jaringan lunak terjepit diantara permukaan sendi.
6) Persendian tersebut disangga dengan pembedahan, dengan pemasangan gips, misalnya pada sendi panngkal paha, untuk memberikan kesembuhan pada ligamentum yang teregang.

7. Diagnosa Keperawatan.
1) Nyeri B. D spasme otot dan kerusakan sekunder terhadap fraktur / dislokasi.
Intervensi.
a) Pertahankan tirah baring sampai dislokasi berkurang.
b) Pertahankan traksi yang diprogramkan dan alat-alat penyokong sebagai contoh; belat, alat fiksasi eksternal atau gips.
Rasional.
a) Nyeri dan spasme otot dikontrol oleh immobilisasi.
b) Untuk mengimmobilisasi fraktu ekstrimitas dan menurunkan nyeri.
2) Gangguan mobilitas fisik B. D traksi atau gips.
Intervensi.
a) Pada saat aktivitas diperbolehkan, tempatkan pasien pada ‘Falls Protocol ‘ sesuai dengan fasilitas protokol.
Rasional.
a) Salah satu fungsi utama dari sistem skeletal ada mobilitas. Resiko jatuh meningkat apabila terdapat gangguan sistem skeletal.
3) Defisit perawatan diri B. D traksi / gips pada ekstrimitas.
Intervensi.
a) Berikan bantuan pada AKS sesuai kebutuhan, ijinkan pasien untuk merawat diri sesuai dengan kemampuan.
b) Setelah reduksi, tempatkan kantung plastik diatas ekstrimitas yang sakit untuk mempertahankan gips / belat / fiksasi eksternal tetap kering pada saat mandi.
Rasional.
a) AKS adalah fungsi dimana orang normal melakukannya tiap hari untuk memenuhi kebutuhan dasar, merawat masuk kebutuhan dasar orang lain membantu mempertahankan harga diri.
b) Kantong plastik, melindungi alat-alat dari kelembaban yang berlebihan yang dapat menimbulkan infeksi dan menyebabkan melunaknya gips.

8. Daftar Pustaka.
Engram, Barbara. 1998. Rencana Asuhan Keperawatan Medikal Bedah, Volume 2. Jakarta. EGC.
Mansoer, Arif dkk. 2001. Kapita Selekta Kedokteran, Jilid II. FKUI. Media Aesculapius.

0 komentar:

Poskan Komentar

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites