Minggu, 17 April 2011

ASKEP VERTIGO

VERTIGO


A. Landasan Teoritis.
1.Pengertian.
Vertigo adalah perasaan yang abnormal, mengenai adanya gerakan penderita sekitarnya atau sekitarnya terhadap penderita; tiba-tiba semuanya serasa berputar atau bergerak naik turun dihadapannya. Keadaan ini sering disusul dengan muntah-muntah, bekringat, dan kolaps. Tetapi tidak pernah kehilangan kesadaran. Sering kali disertai gejala-gejala penyakit telinga lainnya.

2.Tanda dan Gejala.
Jenis vertigo ini merupakan sindrom vestibular yang paling sering dijumpai dalam praktek klinis. Pasien dengan kelainan ini tidak mengalami vertigo bila duduk atau berdiri diam tapi serangann timbul bila terjadi perubahan posisi ( misalnya sedang tidur terlentang ke depan dan ke belakang kemudian miring ke posisi yang terganggu ). Atau gerakan kepala atau badan, umumnya gerakan kedepan dan ke belakang yang memicu vertigo, vertigo biasanya hanya berlangsung beberapa detik. Perubahan posisi kepala menghebat vertigo dan helitonitis vestibulans dan beberapa vertigo lain yaitu perifer atau sentra, tetapi pada gejala ini hanya timbul setelah gerakan kepala tertentu.

3.Patofisiologi.
Penyebab penyakit ini belum diketahui, kemungkinan karena pemasukan cairan dan garam yang  berlebihan, bekerja terlalu berat dan pengaruh emosi.
Pada penyakit ini ditemukan pelebaran labirin membran mukosa disertai rusaknya sel saraf sensori pada ampula dan koklea. Biasanya yang terkena saraf telinga lainnya.
Penyakit ini lazim terdapat pada penderita setengah tua, tiba-tiba mendapat serangan vertigo berat diikuti mual dan muntah. Serangan timbul beberapa jam, tetapi penderita memerlukan istirahat di tempat tidur selama dua – tiga hari. Diperlukan beberapa waktu untuk dapat bekerja kembali sebab penderita masih belum bisa berjalan sempurna serta kurang percaya akan diri sendiri. Penderita dapat sembuh setelah beberapa hari, tetapi dapat juga sampai beberapa bulan. Selama serangan penderita menjadi tuli namun pulih kembali bila penyakit telah sembuh. Keluhan tinitus pada teling yang terkena sering memburuk sebelum atau selam serangan. Sayangnya banyak penderita yang makin lama makin tuli selama penyakit berjalan.

4.Komplikasi.
Komplikasi penyakit vertigo ini biasanya adalah penyakit meniere, trauma telinga dan labirimitis, epidemic atau akibat otitis media kronika. Vertigo juga dapat disebabkan karena penyakit pada saraf akustikus serebelum atau sistem kardiovaskuler.

5.Penatalaksanaan.
Pada fase akut penderita harus dibaringkan dan diberi Avoming 25 mg tiap 6 jam. Kalau muntah dan vertigo hebat penderita perlu dirawat di Rumah Sakit. Promethazine 25 mg dan Chlorpromazine 1,25 mg melalui IM tiap 6jam selama 24 jam akan mengurangi muntah dan vertigo yang hebat.
Pada fase tenang penderita dianjurkan untuk :
a)Mengurangi minum hanya sampai tiga gelas sehari.
b)Pantang garam.

Sebagian besar penderita sembuh dengan cara tersebut diatas. Hanya sebagian kecil saja vertigonya kambuh yang memerlukan operasi pada teling yang terkena.
Bilamana pendengaran masih baik dianjurkan operasi untuk menghilangkan vertigo sambil mempertahankan pendengarannya seperti :
a)Miringotomi dan pemasangan gromet dapat mengurangi vertigo.
b)Dekomprese sakus endolimfatikus untuk mengurangi tekanan di dalam labirin mukosa dapat menghilangkan vertigo.
c)Perusakan dengan ultra sonik terhadap labirin untuk mempertahankan koklea telah dicoba pula tetapi cara ini sudah banyak ditinggalkan oleh ahli THT.
d)Bilamana satu telinga tuli besar dan menyebabkan kambuhnya vertigo perusakan labirin membranosa perlu dilakukan dengan cara operasi ini penderita dibebaskan sama sekali dari vertigo sedangkan hilangnya pendengaran tidak merisaukan penderita.

B.Asuhan Keperawatan.
1.Pengkajian.
☻Aktifitas / Istirahat.
Letih, lelah, malaise, keterbatasan akibat keadaan, ketegangan mata, insomnia.
☻Makanan / Cairan.
Mual / muntah, anoreksia ( selama nyeri ), penurunan berat badan.
☻Neurosensori.
Pening, disorientasi ( selama sakit kepala ), tidak mampu berkonsentrasi, riwayat kejang, cedera kepala yang baru terjadi, trauma, stroke, infeksi intra kranial, kraniotomi, aura; visual, olfaktorius tinitus, perubahan visual, sensitif terhadap cahaya / suara yang keras, epistaksis, parestesia, kelemahan progresif / paralisis satu sisi temporer.
☻Nyeri / kenyamanan.
Nyeri, kemerahan, pucat pada daerah wajah, fokus menyempit, fokus pada diri sendiri, respon emosional / prilaku tak terarah, seperti menangis, gelisah, otot-otot daerah leher menegang, rigiditas nukal.

2.Data Fokus.
☻Inspeksi.
Letih, lelah, ketegangan mata, mual dan muntah, penurunan berat badan, nyeri, kemerahan, pucat pada daerah wajah

☻Auskultasi.
Hipertensi ( peningkatan tekanan darah ).
☻Palpasi.
☻Perkusi.

3.Diagnosa Keperawatan.
1)Nyeri akut / kronis B.D stres dan ketegangan, iritasi / tekanan saraf, vasospasme, peningkatan tekanan intra kranial.
2)Resiko tinggi tidak efektifnya koping individual B.D situasi krisis, kerentanan personal, sistem pendukung tidak adekuat, kelebihan beban kerja / kurang hiburan, ketidak adekuatan relaksasi, metode koping tidak ade kuat, nyeri berat, ancaman berlebihan pada diri sendiri.
3)Kurang pengetahuan ( kebutuhan belajar ) mengenai kondisi dan kebutuhan pengobatan B.D kurang pemajanan / kurang mengingat, tidak mengenal informasi, keterbatasan kognitif.
Intervensi Keperawatan.
☻Diagnosa 1.
1)Teliti keluhan nyeri, catat intensitasnya ( skala 0 – 4 ), karakteristik              ( misal; berat, berdenyut, konstan ), lokasi, lamanya, faktor yang memperburuk, atau meredakan.
2)Observasi adanya tanda-tanda nyeri non verbal, seperti; ekspresi wajah, posisi tubuh, gelisah, menangis / meringis, menarik diri, diaforesis, perubahan frekuensi jantung / pernafasan, tekanan darah.
3)Catat adanya pengaruh nyeri, misalnya; hilangnya perhatian pada hidup, penurunan aktifitas, penurunan berat badan.
☻Diagnosa 2.
1)Diskusikan mengenai metode koping, seperti pemakaian alkohol, kebiasaan merokok, pola makan, strategi relaksasi mental / fisik.
2)Bantu pasien dalam memahami perubahan pada konsep citra tubuh.
3)Berikan informasi mengenai penyebab sakit kepala, penanganan dan hasil yang diharapkan.
☻Diagnosa 3.
1)Diskusikan etiologi individual dari sakit kepala bila diketahui.
2)Bantu pasien dalam mengidentifikasi kemungkinan faktor predisposisi, seperti stres emosi, suhu yang berlebihan, alergi terhadap makanan / lingkungan tertentu.
3)Anjurkan pasien untuk selalu memperhatikan sakit kepala yang dialaminya dan faktor-faktor yang berhubungan atau faktor presipitasinya.

5.Implementasi dan Rasionalisasi Keperawatan.
☻Diagnosa 1.
1)Meneliti keluhan nyeri, mencatat intensitasnya ( skala 0 – 4 ), karakteristik              ( misal; berat, berdenyut, konstan ), lokasi, lamanya, faktor yang memperburuk, atau meredakan.
Rasional:
Nyeri merupakan pengalaman subjektif dan harus dijelaskan oleh pasien. Mengidentifikasi karakteristik nyeri dan faktor yang berhubungan merupakan suatu hal yang amat penting untuk memilih intervensi yang cocok dan untuk mengevaluasi keefektifan dari terapi yang diberikan.
2)Mengobservasi adanya tanda-tanda nyeri non verbal, seperti; ekspresi wajah, posisi tubuh, gelisah, menangis / meringis, menarik diri, diaforesis, perubahan frekuensi jantung / pernafasan, tekanan darah.
Rasional:
Merupakan indikator / derajat nyeri yang tidak langsung yang dialami. Sakit kepala mungkin bersifat akut atau kronis, jadi manifestasi fisiologis bisa muncul / tidak.
3)Mencatat adanya pengaruh nyeri, misalnya; hilangnya perhatian pada hidup, penurunan aktifitas, penurunan berat badan.


Rasional:
Nyeri dapat mempengaruhi kehidupan sampai pada suatu keadaan yang cukup serius dan mungkin berkembang kearah depresi.
☻Diagnosa 2.
1)Mendiskusikan mengenai metode koping, seperti pemakaian alkohol, kebiasaan merokok, pola makan, strategi relaksasi mental / fisik.
Rasional:
Tingkat laku maladaptif mungkin digunakan untuk mengatasi nyeri yang menetap atau mungkin berperan dalam berlanjutnya nyeri tersebut.
2)Membantu pasien dalam memahami perubahan pada konsep citra tubuh.
Rasional:
Pasien mungkin menganggap dirinya sebagai seseorang yang mengalami sakit kepala dan mulai melihat dirinya sebagai seorang yang tidak mengalami sakit kepala.
3)Memberikan informasi mengenai penyebab sakit kepala, penanganan dan hasil yang diharapkan.
Rasional:
Pemahaman terhadap informasi ini dapat membantu pasien dalam menentukan pilihan, belajar mengatasi masalah dan mendapatkan satu sensasi dari pengendalian atas keadaan yang meningkatkan harga diri.
☻Diagnosa 3.
1)Mendiskusikan etiologi individual dari sakit kepala bila diketahui.
Rasional:
Mempengaruhi pemilihan terhadap penanganan dan berkembang kearah proses penyembuhan.
2)Membantu pasien dalam mengidentifikasi kemungkinan faktor predisposisi, seperti stres emosi, suhu yang berlebihan, alergi terhadap makanan / lingkungan tertentu.
Rasional:
Menghindari / membatasi faktor-faktor ini seringkali dapat mencegah berulangnya / kambuhnya serangan.
3)Menganjurkan pasien untuk selalu memperhatikan sakit kepala yang dialaminya dan faktor-faktor yang berhubungan atau faktor presipitasinya.
Rasional:
Memberikan kesempatan untuk mengidentifikasi / mengendalikan faktor yang mungkin menjadi pencetus sakit kepala tersebut.

6.Daftar Pustaka.
Doengos, Marily E. 1998. Rencana Asuhan Keperawatan, Pedoman Untuk Perencanaan dan Pendokumentasian. Edisi 3 EGC; Jakarta.
Mansjoer Arif, dkk. 1999. Kapita Selekta Kedokteran, Edisi 3, Media Aesculapius FKUI, EGC; Jakarta.

0 komentar:

Poskan Komentar

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites