This is default featured post 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Rabu, 20 April 2011

ASUHAN KEPERAWATAN PADA TRANFUSI DARAH.

ASUHAN KEPERAWATAN
PADA TRANFUSI DARAH.


I. PENGERTIAN.

Tranfusi darah adalah pemindahan darah atau komponen darah dari donor darah ke dalam peredaran darah penerima.

Tujuannya adalah sebagai pengobatan untuk kesembuhan penderita.

II. INDIKASI.
1. Darah lengkap (whole blood)
Tranfusi darah lengkap diberikan untuk memperbaiki :
a. Kemampuan transfortasi zat asam oleh sel darah merah.
b. Jumlah darah yang beredar (misalnya ; perdarahan hebat, luka bakar).

2. Sel darah merah (pack red sel.)
Kalau tujuan tranfusi darah hanya untuk menambah jumlah sel darah merah atau memperbaiki kemampuan transfortasi O2, pemberian sel darah merah lebih baik karena :
a. Sebagian besar plasma tidak diberikan sehingga beban sirkulasi penderita berkurang.
b. Pada penderita dengan gangguan ginjal dimana diperlukan pembatasan pemberian protein.
c. Mengurangi reaksi alergi terhadap protein plasma.
d. Mengurangi reaksi kemungkinan pembentukan badan-badan penangkis (anti leokosit, anti trombosit).

3. Trombosit.
Pemberian trombosit sering diperlukan pada kasus perdarahan yang disebabkan oleh kekurangan trombosit. Kekurangan trombosit tersebut dapat berupa primer atau sekunder akibat dari perdarahan itu sendiri.

4. Plasma darah.
Manfaat darah dan komponennya ialah untuk :
a. Menambah volume dari sirkulasi darah (hipovolemia, luka bakar).
b. Mengganti atau menambah protein darah yang kurang (nefrotik sindrom, sirosis hepatis).
c. Mengganti dan memperbaiki faktor-faktor tertentu dari plasma, misalnya ; glabulin anti haemophylic faktor).

III. KOMPLIKASI TRANFUSI DARAH.
1. Reaksi hemolitik.
a. Karena golongan darah yang tidak cocok (iricompatible).
b. Bukan karena golongan darah yang tidak cocok.

2. Reaksi non hemolitik.
Alergi. Keracunan citras.
Pyrogen Keracunan kalium.
Kontaminasi bakteri. Gangguan pembekuan.
Overloading. Emboli
Gangguan irama jantung.

3. Penularan penyakit.
Hepatitis.
Malaria.
Syphilis.
HIV

ASUHAN KEPERAWATAN BLOOD TRANFUTION

DATA DASAR PENGKAJIAN.

1. Aktivitas
Gejala : kelelahan, malaise, kelemahan, ketidakmampuan untuk melakukan aktivitas biasanya.
Tanda : Kelelahan otot. Peningkatan kebutuhan tidur, samnolen.

2. Sirkulasi.
Gejala : Palpitasi.
Tanda : Takhikardia, murmur jantung.
Kulit, membran mukosa pucat.
Defisit syaraf kranial dan atau tanda perdarahan serebral.

3. Eliminasi.
Gejala : Diare ; nyeri tekan perianal, nyeri.
Darah merah terang pada tissue, faeces hitam.
Darah pada urien, penurunan haluaran urien.

4. Integritas Ego.
Gejala : Perasaan tidak berdaya / tak ada harapan.
Tanda : Depresi, menarik diri, ancietas, takut, marah, mudah terangsang, perubahan alam perasaan, kacau.

5. Makanan / cairan.
Gejala : Kehilangan nafsu makan, anorexia, muntah.
Perubahan rasa / penyimpangan rasa.
Tanda : Distensi abdominal, penurunan bunyi usus.

6. Neorosensori.
Gejala : Kurang / penurunan kordinasi.
Perubahan alam perasaan, kacau, disorientasi kurang konsentrasi.
Pusing, kesemutan, parastesia.
Tanda : otot mudah terangsang, aktivitas kejang.

7. Nyeri / kenyamanan.
Gejala : Nyeri abdomen, sakit kepala, nyeri tulang / sendi ; nyeri tekan strenal, kram otot.
Tanda : Perilaku berhati-hati / distraksi ; gelisah, fokus pada diri sendiri.

8. Pernafasan.
Gejala : Nafas pendek dengan kerja minimal.
Tanda : Dispnea, takipnea, & batuk.

9. Keamanan.
Gejala : Riwayat infeksi saat ini / terdahulu.
Gangguan penglihatan / kerusakan.
Tanda : Demam, infeksi.
Kemerahan, purpura, perdarahan retina, perdarahan gusi atau epistaksis.

10 Seksualitas.
Gejala : Perubahan libido.
Perubahan aliran menstruasi, menorhaghia.
Impoten.

PRIORITAS KEPERAWATAN
1. Mencegah infeksi.
2. Mengurangi nyeri.
3. Memberikan dukungan psikologis.
4. Proses pemberian transfusi dapat dipahami.

DIAGNOSA KEPERAWATAN.
1. Resiko tinggi terhadap infeksi.
2. Nyeri (akut).
3. Cemas.
4. Resiko efek samping.
5. Gangguan aktivitas.

PENGETAHUAN PASIEN TENTANG MANFAAT KEBUTUHAN TIDUR BAGI PENYEMBUHAN PENYAKIT

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
  Tidur merupakan kebutuhan dasar manusia yang bersifat fisiologis, atau kebutuhan atas paling dasar atau paling bawah dari pirammida kebutuhan dasar. Kesempatan untuk istirahat dan tidur sama pentingnya dengan kebutuhan makan, aktivitas maupun kebutuhan dasar lainnya. Setiap individu membutuhkan istirahat dan tidur untuk memulihkan kembali kesehatannya (Kozier,2004).
Keteraturan dan lamanya tidur dari masing-masing orang seperti juga halnya dengan masa sakit, maka tidur merupakan persoalan yang bersifat pribadi. Ada orang yang memerlukan lebih banyak tidur, ada tidur yang tidak tenang dengan tidur yang tenang. Kebiasaan-kebiasaan agaknya memegang peranan dalam pola-pola tidur dan tidur akan lebih mudah jika kebiasan-kebiasaan itu tetap diikuti (Dian,2006).
Banyak sekali yang mempengaruhi kualitas maupun kuantititas tidur seseorang, antara lain kepulasan atau mutu tidur dan lama waktu tidur dan lama waktu tidur seseorang. Pasien yang dirawat dirumah sakit mempunyai kecendrungan terganggu tidurnya yang mungkin disebabkan oleh aktifitas yang menimbulkan kegaduhan, lampu yang menyala terang, terganggu oleh dengkuran pasien lain atau pun yang terpaksa karena adanya prosuder tindakan tertentu(Kozier,2004). Kualitas maupun kuantitas tidur seseorang berbeda-beda, salah satu pengaruhnya adalah lingkungan saat tidur seperti gejala primer kurang tidur atau sulit tidur pada tipa malamnya. Keadaan ini banyak terjadi pada usia lanjut atau lansia, dan tidak kemungkinan untuk orang dewasa.
Keadaan sakit sering memerlukan waktu tidur lebih banyak dari orang normal karena kondisi saat sakit memerlukan pemulihan kondisi saat sakit memerlukan pemulihan sistem tubuh untuk mengembalikan kondisi seperti semula saat sebelum sakit.(Kozier,2004)
Reimer, M.A. (1985) dalam Craven dan Hirnle (2000)  melakukan penelitian pada 143 klien dewasa diruang rawat medical bedah sebuah rumah sakit di Amerika. Reineir mendapatkan data bahwa stimulus yang dapat mengganggu tidur di rumah sakit meliputi kesulitan menemukan posisi yang nyaman (62%), rasa sakit (58%), kehawatiran tentang hasil pemeriksaan (30%), kehawatiran tentang keluarga, pekerjaan dan pengaturan di rumah (25%), ketidaknyamanan karena pakaian, balutan, dll (25%), lampu terlalu terang (25%), ketakutan pada saat pencabutan selang (20%), kurang latihan (18%), temperatur (17%), suara ribut dari televisi dan radio (17%), kebisingan kantor perawatan (25%), lingkungan tidak dikenal (18%), kebiasaan sehari-hari yang terganggu (20%) tempat tidur yang tidak nyaman (10%), tidur siang (10%), dan tidur sendirian(10%).
Dr Nathaniel Kleitman, yang dikenal sebagai "Bapak Riset Tidur Amerika", mengawali penelitiannya di Chicago pada 1920 dengan mempertanyakan aturan tentang tidur, terjaga, dan ritme sirkardian. Riset penting Kleitman meliputi studi karakteristik tidur pada populasi yang berbeda serta efek dari kurang tidur. Pada 1953, dia dan muridnya, Dr Eugene Aserinsky, menemukan hal penting, yakni mekanismerapid eye movement (REM) saat tidur. Menurut Kleitman, pada masa lalu, manfaat tidur sering kali diabaikan. Munculnya pemahaman  tentang pentingnya tidur bagi kesehatan pun terbilang masih baru. Padahal, ketika seseorang tidur kurang dari enam atau tujuh jam setiap malam, risiko terkena penyakit akan meningkat.
Salah satu pusat penelitian paling maju yang menyelidiki dampak kekurangan tidur terhadap berbagai penyakit telah dibuka di Sydney, Australia.Laboratorium di Universitas Sydney ini mengkaji hubungan antara kesulitan tidur dengan penyakit seperti Alzheimer dan gangguan bipolar.Wartawan BBC Phil Mercer melaporan para peneliti yakin bahwa manfaat tidur sering disepelekan dan bahwa kurang istirahat bisa menganggu kesehatan fisik maupun mental., Profesor Naomi Rogers mengatakan dengan membantu penderita agar bisa tidur nyenyak mereka bisa mencegah penyakit tidak menjadi terlalu parah.
Secara ilmiah pun beberapa penelitian telah membuktikan dirumah sakit wanita Brigham bostom tahun 1998 Amerika serikat, kurang tidur , ternyata berisiko terhadap kesehatan jantung. Demikian terungkap dari hasil penelitian yang melibatkan 72.000 orang perawat sebagai samplingnya Wanita yang tidur kurang dari 5 jam setiap malamnya, ternyata memiliki risiko lebih tinggi 39% terkena penyakit jantung dibandingkan dengan perempuan yang tidur 8 jam. Sedangkan, wanita yang tidur kurang dari 6 jam memiliki risiko lebih tinggi 18% terkena sumbatan arteri.

Dari data di ruang penyakit dalam RSUD Ratu Zalekha martapura didapatkan data kejadian kurangnya tidur tahun 2010/2011 sebanyak 30 orang.
Berdasarkan pengamatan peneliti di ruang penyakit dalam RSUD Ratu Zalekha Martapura pada tanggal 15 desember 2010, 17 dari 30 pasien tidak mengetahui manfaat tidur untuk penyembuhan penyakit.
Keadaan sakit memerlukan waktu tidur lebih banyak dari orang normal karena kondisi saat sakit memerlukan pemulihan sistem tubuh untuk mengembalikan kondisi seperti semula saat sebelum sakit. Namun demikian, keadaan sakit dapat menjadikan pasien kurang tidur atau tidak dapat tidur oleh karena banyak faktor diantaranya adalah rasa sakit yang dideritanya, pengunjung pasien lain secara berkelompok, lingkungan yang kurang nyaman, tindakan pemberian obat atau injeksi yang dilakukan perawat bisa membangunkan pasien dalam tidurnya dan sebagainya (Kozier,2004).
Tidur merupakan salah satu cara untuk melepaskan kelelahan jasmani dan kelelahan mental. Dengan tidur  semua keluhan hilang atau berkurang dan akan kembali mendapatkan tenaga serta semangat untuk menyelesaikan persoalan yang dihadapi. Tidur yang cukup dapat memainkan peranan dalam membantu tubuh kita untuk pulih dari penyakit atau luka. Penelitian menunjukkan  bahwa kurang tidur mengakibatkan kehilangan kekuatan, kerusakan pada sistem kekebalan dan meningkatkan tekanan darah (Nancy W, 2006).
Berdasarkan pernyataan diatas peneliti ingin melakukan penelitian  dengan judul gambaran tingkat pengetahuan pasien tentang pentingnya tidur bagi penyembuhan penyakit. Berdasarkan pernyataan diatas  peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul ” GAMBARAN PENGETAHUAN PASIEN TENTANG MANFAAT KEBUTUHAN TIDUR TERHADAP PROSES PENYEMBUHAN PENYAKIT DI RUANG PENYAKIT DALAM DI RSUD RATU ZALEKHA MARTAPURA 2011.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, rumusan masalah dalam Karya Tulis Ilmiah ini adalah “
Pernyataan Masalah
Pentingnya pengetahuan dan sikap pasien terhadap manfaat kebutuhan tidur pada proses penyembuhan penyakitnya dengan menjalakan pola tidur yang baik dapat mempercepat proses penyembuhan penyakit pasien.
Pertanyaan Masalah
“Bagaimana gambaran pasien tentang manfaat kebutuhan tidur terhadap proses penyembuhan penyakitnya di ruang penyakit dalam RSUD ratu zalekha martapura 2011”.

C. Tujuan Penelitian
C.1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui gambaran pengetahuan pasien tentang manfaat kebutuhan tidur terhadap proses penyembuhan penyakit di Rumah Sakit Umum Ratu Zalekha Tahun 2011.
C.2. Tujuan Khusus
a. Untuk mengetahui pengetahuan pasien tentang manfaat kebutuhan tidur, tidur dapat menjaga kesehatan tubuh.
b. Untuk mengetahui pengetahuan pasien tentang manfaat kebutuhan tidur, tidur dapat mengurai stres.
c. Untuk mengetahui pengetahuan pasien tentang manfaat kebutuhan tidur, tidur berfungsi sebagai cadangan energi tubuh .
d. Untuk mengetahui pengetahuan pasien tentang manfaat kebutuhan tidur, tidur dapat menjaga meabolisme tubuh.

D. Manfaat Penelitian
1. Bagi institusi pendidikan
Sebagai bahan bacaan bagi mahasiswa di perpustakaan Akper Intan Martapura, dapat sebagai acuan atau pedoman bagi mahasiswa atau yang melakukan penelitian selanjutnya.
2. Bagi Rumah Sakit
Sebagai bahan masukan tentang seberapa besar pengetahuan pasien tentang manfaat kebutuhan tidur terhadap proses penyembuhan penyakit
3. Bagi Peneliti
Untuk menambah pengetahuan dan dapat meningkatkan pengetahuan dan memberi informasi kepada pasien dalam memenuhi kebutuhan dasar manfaat tidur.

4. Bagi pasien
Pasien mengetahui betapa pentingnya manfaat kebutuhan  tidur untuk proses penyembuhan penyakit

AKPER INTAN MARTAPURA

Latar Belakang
Akper Intan Martapura Kabupaten Banjar Yayasan Banjar Insan Prestasi didirikan berdasarkan SK MENDIKNAS RI Nomor 213/D/O/2010, sebagai perubahan status alih bina dan kelola yang sebelumnya dibina oleh Kementerian Kesehatan dan dikelola oleh Pemerintah Kabupaten Banjar hasil konversi dari Sekolah Perawat Kesehatan (SPK). Pada saat ini telah berubah status dibina oleh Kementerian Pendidikan Nasional dan dikelola oleh Yayasan Banjar Insan Prestasi, hal ini mengacu pada UU No. 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional. Akademi Keperawatan Intan Martapura adalah lembaga pendidikan tinggi kesehatan  yang bersifat otonom dibawah badan hukum (Yayasan Banjar Insan Prestasi) berdasarkan SK MENKUMHAM RI Nomor AHU.4117.AH.01.04 Tahun 2010.

Kebutuhan tenaga kesehatan khususnya tenaga keperawatan yang semakin meningkat di tiap-tiap daerah Kabupaten/Kota  khususnya di wilayah Kalimantan, Akper Intan Martapura berkontribusi untuk mencukupi tenaga kesehatan khususnya dibidang keperawatan yang profesional pemula. Lulusan Akper Intan Martapura telah eksis mengabdi di berbagai tempat pelayanan kesehatan seperti Rumah Sakit Pemerintah, Rumah Sakit Swasta, Puskesmas, Panti, dan berbagai Klinik Kesehatan lainnya. Hal ini tidak terlepas dari Aspek Penjaminan Mutu Pendidikan kepada masyarakat yang setiap saat selalu berbenah diri kearah kebaruan hal ini dibuktikan dengan terakreditasinya institusi Akper Intan Martapura berdasarkan SK KAPUSDIKNAKES DEPKES RI Nomor HK.06.01/IV/3/02249/2009, Akreditasi ; Strata A serta dalam proses terakreditasi oleh BAN-PT. Selain itu  menyesuaikan dengan Standart Pendidikan Nasional dan Standart Organisasi Profesi Keperawatan serta selalu menerima masukan dari berbagai pihak termasuk Organisasi Profesi Kesehatan lainnya untuk peningkatan kualitas lulusan.

Dengan mengacu kepada Fungsi dari Tujuan Pendidikan Nasional, yaitu “ Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan  kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa dan bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi  manusia  yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab, maka terbuka peluang kepada masyarakat untuk berperan serta dalam penyelenggaraan pendidikan. Bahwa potensi dan sumbangsih masyarakat perlu ditumbuhkankembangkan dan digalakkan dalam rangka ikut berperan dalam penyelenggaraan pendidikan.

Undang-undang Repubik Indonesia No.36 tahun 2009 mengamanatkan dalam rangka melaksanakan upaya kesehatan, diperlukan sumber daya keperawatan yang memadai. Sumber daya keperawatan tersebut meliputi tenaga kesehatan yang bertugas menyelenggarakan atau melakukan kegiatan kesehatan (yang menitik beratkan pada upaya promotif, prefentif, dengan tanpa meninggalkan upaya kuratif dan rehabilitatif) sesuai dengan bidang keahlian dan status kewenangan tenaga kesehatan yang bersangkutan termasuk didalamnya sumber daya tenaga keperawatan.

Menurut Departemen Kesehatan Republik Indonesia Tahun 2007, jumlah sumber daya kesehatan belum memadai. Rasio Tenaga kesehatan dengan jumlah penduduk masih rendah. Produksi perawat setiap tahun sekitar 4000 perawat baru dengan rasio terhadap jumlah penduduk 1 : 2850, tetapi terdistribusi secara tidak merata diseluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Perkembangan pelayanan keperawatan tidak hanya sekedar memproduksi  tenaga keperawatan tetapi berbading lurus dengan peningkatan mutu tenaga keperawatan. Artinya perkembangan keperawatan saat ini telah melahirkan paradigma keperawatan yang menuntut adanya pelayanan keperawatan yang bermutu, hal ini dapat dilihat dari adanya fenomena sistem pelayanan keperawatan yakni perubahan sifat layanan dari vokasional menjadi profesional dan terjadinya pergeseran fokus layanan asuhan keperawatan. Fokus asuhan keperawatan berubah dari peran kuratif dan rehabilitatif menjadi peran promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif. Untuk itu diperlukan tenaga keperawatan dari aspek kuantitas dan kualitas  agar dapat memberikan pelayanan keperawatan yang terintegrasi dalam pelayanan kesehatan masyarakat yang efektif, efisien dan bermutu disemua tatanan pelayanan kesehatan khususnya di Propinsi Kalimantan Selatan.

Salah satu upaya pembinaan dan pemberdayaan sumber daya manusia adalah pendidikan. Seiring dengan kebijakan pembangunan kependudukan yang diarahkan pada pengendalian kelahiran, penurunan angka kematian, peningkatan angka harapan hidup, penyebaran penduduk yang merata dan seimbang serta terbukanya lapangan kerja, maka Akademi Keperawatan (Akper) Intan Martapura Kabupaten Banjar berupaya menjawab tantangan dan memanfaatkan peluang tersebut dengan melaksanakan pendidikan Diploma III Keperawatan.

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN STENOSIS MITRAL

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN STENOSIS MITRAL


I. Pengertian : Penyakit pada daun katup mitral. Insiden tertinggi penyakit katup adalah pada katup mitralis, diikuti oleh katup aorta.

II. Etiologi
Secara etiologis stenosis metral dibagi atas rematik (> 90%) dan non rematik. Stenosis metral rematik berasal dari demam rematik, suatu peradangan non supratif pada berbagai jaringan tubuh dengan berbagai manifestasinya, misalnya : jantung (Karditis) dan otak (Khorea). Dinegara yangs edang berkembang (termasuk Indonesia) stenosis mitrals ebagian terjadi pada usia dibawah 20 tahun yang disebut sebagai juvenil mitral stenosis.

IV. Pemeriksaan fisik
Stenosis metral yang murni (isolated) dapat didengar bising meddiastolikyang bersifat kasar, bising menggenderang (Rumble), Aksentuasi presistolik dan bunyi jantung satu yang mengeras. Jika terdengar bunyi tambahan opening snap berarti katup masih relatif lemas (pliable) sehingga waktu terbuka mendadak saat distole menimbulkan bunyi yang menyentak (seperti tali putus). Jarak bunyi jantung dua dengan opening snap memberikan gambaran beratnya stenosis. Makin pendek jarak ini berarti makin berat derajat penyempitannya.
Komponen pulmunal bunyi jantung kedua dapat mengeras disertai bising sistolik karena adanya hipertensi pulmunal. jika sudah terjadi insufisiensi pulmunal maka dapat terdengar bising diastolik dini dari katup pulmunal.
V. Pemeriksaan Diagnostik
1. Kateterisasi jantung : Gradien tekanan (pada distole) antara atrium kiri dan ventrikel kiri melewati katup mitral, penurununan orivisium katup (1,2 cm), peninggian tekanan atrium kiri, arteri pulmunal, dan ventrikel kanan ; penurunan curah jantung.
2. Ventrikulografi kiri : Digunakan untuk mendemontrasikan prolaps katup mitral.
3. ECG : Pembesaran atrium kiri ( P mitral berupa takik), hipertropi ventrikel kanan, fibrilasi atrium kronis.
4. Sinar X dada : Pembesaran ventrikel kanan dan atrium kiri, peningkatan vaskular, tanda-tanda kongesti/edema pulmunal.
5. Ekokardiogram : Dua dimensi dan ekokardiografi doppler dapat memastikan masalah katup. Pada stenosis mitral pembesaran atrium kiri, perubahan gerakan daun-daun katup.
VI. Manejemen Keperawatan
1. Pengkajian
Data Subyektif
1) Riwayat penyakit sekarang
a. Dyspnea atau orthopnea
b. Kelemahan fisik (lelah)
2) Riwayat medis
Adakah riwayat penyakit demam rematik/infeksi saluran pernafasan atas.
Data Obyektif
1) Gangguan mental : lemas, gelisah, tidak berdaya, lemah dan capek.
2) Gangguan perfusi perifer : Kulit pucat, lembab, sianosis, diaporesis.
3) Gangguan hemodenamik : tachycardia, bising mediastolik yang kasar, dan bunyi jantung satu yang mengeras, terdengar bunyi opening snap, mur-mur/S3, bunyi jantung dua dapat mengeras disertai bising sistole karena adanya hipertensi pulmunal, bunyi bising sistole dini dari katup pulmunal dapat terdengar jika sudah terjadi insufisiensi pulmunal, CVP, PAP, PCWP dapat meningkat, gambaran EKG dapat terlihat  P mitral, fibrilasi artrial dan takikardia ventrikal.
4) Gangguan fungsi pulmunary : hyperpnea, orthopnea, crackles pada basal.
2. Diagnosa Keperawatan Yang Mungkin Timbul
a. Koping individu tidak efektif b/d krisis situasional; sistem pendukung tidak adekuat; metode koping tidak efektif.
b. Kurang pengetahuan (kebutuhan  belajar) b/d kurang pengetahuan; misinterpretasi informasi; keterbatasan kognitif; menyangkal diagnosa.
c. Perubahan penampilan peran b/d krisis situasional; proses penyembuhan; ragu-ragu akan masa depan.
d. Resiko kelebihan volume cairan b/d adanya perpindahan tekanan pada kongestif vena pulmonal; Penurunan perfusi organ (ginjal); peningaktan retensi natrium/air; peningakatn tekanan hidrostatik atau penurunan protein plasma (menyerap cairan dalam area interstitial/jaringan).
e. Resiko kerusakan pertukaran gas b/d perubahan membran kapiler-alveolus (perpindahan cairan ke dalam area interstitial/alveoli).
f. Pola nafas tidak efektif b/d penurunan ekspansi paru.
g. Ansietas b/d ancaman kehilangan/kematian; krisis situasional; ancaman terhadap konsep diri (citra diri).
h. Gangguan perfusi jaringan b/d penurunan sirkulasi darah perifer; penghentian aliran arteri-vena; penurunan aktifitas.
i. Penurunan curah jantung b/d adanya hambatan aliran darah dari atrium kiri ke ventrikel kiri, adanya takikardi ventrikel, pemendekan fase distolik.
j. Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d sesak napas.
k. Gangguan eleminasi urine b/d penurunan perfusi glomerulus; penurunan kardiak output.
l. Resiko kurang volume cairan tubuh b/d penurunan kardiak output; penurunan filtrasi  glomerulus.
m. Intoleran aktifitas b/d adanya penurunan curah jantung, kongestif pulmunal.
n. Gangguan pemenuhan ADL b/d immobilisasi; kelemahan fisik.
3. Diagnosa Keperawatan Utama Yang Akan Dibahas
a. Penurunan curah jantung b/d adanya hambatan aliran darah dari atrium kiri ke ventrikel kiri, adanya takikardi ventrikel, pemendekan fase distolik
b. Gangguan perfusi jaringan b/d penurunan sirkulasi darah perifer; penghentian aliran arteri-vena; penurunan aktifitas.
c. Intoleran aktifitas b/d adanya penurunan curah jantung, kongestif pulmunal.
d. Resiko kelebihan volume cairan b/d adanya perpindahan tekanan pada kongestif vena pulmonal; Penurunan perfusi organ (ginjal); peningaktan retensi natrium/air; peningakatn tekanan hidrostatik atau penurunan protein plasma (menyerap cairan dalam area interstitial/jaringan).
e. Resiko kerusakan pertukaran gas b/d perubahan membran kapiler-alveolus (perpindahan cairan ke dalam area interstitial/alveoli).
4. Rencana Intervensi dan Rasional
a. Penurunan curah jantung b/d adanya hambatan aliran darah dari atrium kiri ke ventrikel kiri, adanya takikardi ventrikel, pemendekan fase distolik.
Tujuan: Setelah diberikan asuhan keperawatan selama 3 hari, penurunan curah jantung dapat diminimalkan.
Kriteria hasil: Vital sign dalam batas normal, Gambaran ECG normal, bebas gejala gagal jantung, urine output adekuat 0,5-2 ml/kgBB, klien ikut serta dalam aktifitas yang mengurangi beban kerja jantung.
Rencana intervensi dan rasional:
INTERVENSI RASIONAL
Kaji frekuensi nadi, RR, TD secara teratur setiap 4 jam.
Catat bunyi jantung.
Kaji perubahan warna kulit terhadap sianosis dan pucat.
Pantau intake dan output setiap 24 jam.
Batasi aktifitas secara adekuat.
Berikan kondisi psikologis lingkungan yang tenang. Memonitor adanya perubahan sirkulasi jantung sedini mungkin.
Mengetahui adanya perubahan irama jantung.
Pucat menunjukkan adanya penurunan perfusi perifer terhadap tidak adekuatnya curah jantung. Sianosis terjadi sebagai akibat adanya obstruksi aliran darah pada ventrikel.
Ginjal berespon untuk menurunkna curah jantung dengan menahan produksi cairan dan natrium.
Istirahat memadai diperlukan untuk memperbaiki efisiensi kontraksi jantung dan menurunkan komsumsi O2 dan kerja berlebihan.
Stres emosi menghasilkan vasokontriksi yang meningkatkan TD dan meningkatkan kerja jantung.
b. Gangguan perfusi jaringan b/d penurunan sirkulasi darah perifer; penghentian aliran arteri-vena; penurunan aktifitas.
Tujuan: Setelah diberikan asuhan keperawatan selama 3 hari perfusi jaringan adekuat.
Kriteria hasil: vital sign dalam batas yang dapat diterima, intake output seimbang, akral teraba hangat, sianosis (-), nadi perifer kuat, pasien sadar/terorientasi, tidak ada oedem, bebas nyeri/ketidaknyamanan.
Rencana intervensi dan rasional:
INTERVENSI RASIONAL
Monitor perubahan tiba-tiba atau gangguan mental kontinu (camas, bingung, letargi, pinsan).
Observasi adanya pucat, sianosis, belang, kulit dingin/lembab, catat kekuatan nadi perifer.
Kaji tanda Homan (nyeri pada betis dengan posisi dorsofleksi), eritema, edema.
Dorong latihan kaki aktif/pasif.
Pantau pernafasan.
Kaji fungsi GI, catat anoreksia, penurunan bising usus, mual/muntah, distensi abdomen, konstipasi.
Pantau masukan dan perubahan keluaran urine.
Perfusi serebral secara langsung berhubungan dengan curah jantung, dipengaruhi oleh elektrolit/variasi asam basa, hipoksia atau emboli sistemik.
Vasokonstriksi sistemik diakibatkan oleh penurunan curah jantung mungkin dibuktikan oleh penurunan perfusi kulit dan penurunan nadi.
Indikator adanya trombosis vena dalam.
Menurunkan stasis vena, meningkatkan aliran balik vena dan menurunkan resiko tromboplebitis.
Pompa jantung gagal dapat mencetuskan distres pernafasan. Namun dispnea tiba-tiba/berlanjut menunjukkan komplikasi tromboemboli paru.
Penurunan aliran darah ke mesentrika dapat mengakibatkan disfungsi GI, contoh kehilangan peristaltik.
Penurunan pemasukan/mual terus-menerus dapat mengakibatkan penurunan volume sirkulasi, yang berdampak negatif pada perfusi dan organ.
c. Intoleran aktifitas b/d adanya penurunan curah jantung, kongestif pulmunal Tujuan: Setelah diberikan asuhan keperawatan selama 3 hari, klien dapat beraktifitas sesuai batas toleransi yang dapat diukur.
Kriteria hasil: menunjukkan peningaktan dalam beraktifitas, dengan frekuensi jantung/irama dan TD dalam batas normal, kulit hangat, merah muda dan kering.
Rencana intervensi dan rasional:
INTERVENSI RASIONAL
Kaji toleransi pasien terhadap aktifitas menggunakan parameter berikut: nadi 20/mnt di atas frek nadi istirahat, catat peningaktan TD, dispnea, nyeri dada, kelelahan berat, kelemahan, berkeringat, pusing atau pinsan.
Tingkatkan istirahat dan batasi aktifitas.
Batasi pengunjung atau kunjungan oleh pasien.
Kaji kesiapan untuk meningaktkan aktifitas contoh: penurunan kelemahan/kelelahan, TD stabil/frek nadi, peningaktan perhatian pada aktifitas dan perawatan diri.
Dorong memajukan aktifitas/toleransi perawatan diri.
Berikan bantuan sesuai kebutuhan (makan, mandi, berpakaian, eleminasi).
Anjurkan pasien menghindari
peningkatan tekanan abdomen, mnegejan saat defekasi.
Jelaskan pola peningkatan bertahap dari aktifitas, contoh: posisi duduk ditempat tidur bila tidak pusing dan tidak ada nyeri, bangun dari tempat tidur, belajar berdiri dst.
Parameter menunjukkan respon fisiologis pasien terhadap stres aktifitas dan indikator derajat penagruh kelebihan kerja jnatung.
Menghindari terjadinya takikardi dan pemendekan fase distole.
 Pembicaraan yang panjang sangat mempengaruhi pasien, naum periode kunjungan yang tenang bersifat terapeutik.
Stabilitas fisiologis pada istirahat penting untuk menunjukkan tingkat aktifitas individu.
Konsumsi oksigen miokardia selama berbagai aktifitas dapat meningkatkan jumlah oksigen yang ada. Kemajuan aktifitas bertahap mencegah peningkatan tiba-tiba pada kerja jantung.
Teknik penghematan energi menurunkan penggunaan energi dan membantu keseimbangan suplai dan kebutuhan oksigen.
Aktifitas yang memerlukan
menahan nafas dan menunduk (manuver valsava) dapat mengakibatkan bradikardia, menurunkan curah jantung, takikardia dengan peningaktan TD.
Aktifitas yang maju memberikan kontrol jantung, meningaktkan regangan dan mencegah aktifitas berlebihan.
d. Resiko kelebihan volume cairan b/d adanya perpindahan tekanan pada kongestif vena pulmonal, Penurunan perfusi organ (ginjal); peningaktan retensi natrium/air; peningakatn tekanan hidrostatik atau penurunan protein plasma (menyerap cairan dalam area interstitial/jaringan).
Tujuan: Setelah diberikan asuhan keperawatan selama 3 hari kelebihan volume cairan tidak terjadi.
Kriteria hasil: balance cairan masuk dan keluar, vital sign dalam batas yang dapat diterima, tanda-tanda edema tidak ada, suara nafas bersih.
Rencana intervensi dan rasional:
INTERVENSI RASIONAL
Auskultasi bunyi nafas untuk adanya krekels.
Catat adanya DVJ, adanya edema dependen.
Ukur masukan/keluaran, catat penurunan pengeluaran, sifat konsentrasi. Hitung keseimbnagan cairan.
Pertahankan pemasukan total cairan 2000 cc/24 jam dalam toleransi kardiovaskuler.
Berikan diet rendah natrium/garam.
Delegatif pemberian diiretik. Mengindikaiskan edema paru skunder akibat dekompensasi jantung.
Dicurigai adanya gagal jantung kongestif.kelebihan volume cairan.
Penurunan curah jantung mengakibatkan gangguan perfusi ginjal, retensi cairan/Na, dan penurunan keluaran urine. Keseimbangan cairan positif berulang pada adanya gejala lain menunjukkan klebihan volume/gagal jantung.
Memenuhi kebutuhan cairan tubuh orang dewasa tetapi memerlukan pembatasan pada adanya dekompensasi jantung.
Na meningkatkan retensi cairan dan harus dibatasi.
Mungkin perlu untuk memperbaiki kelebihan cairan.
e. Resiko kerusakan pertukaran gas b/d perubahan membran kapiler-alveolus (perpindahan cairan ke dalam area interstitial/alveoli).
Tujuan: Setelah diberikan asuhan keperawatan selama 3 hari pertukaran gas adekuat.
Kriteria hasil: sianosis tidak ada, edema tidak ada, vital sign dalam batas dapat diterima, akral hangat, suara nafas bersih, oksimetri dalam rentang normal.
Rencana intervensi dan rasional:
INTERVENSI RASIONAL
Auskultasi bunyi nafas, catat krekels, mengii.
Anjurkan pasien batuk efektif, nafas dalam.
Dorong perubahan posisi sering.
Pertahankan posisi semifowler, sokong tangan dengan bantal.
Pantau GDA (kolaborasi tim medis), nadi oksimetri.
Berikan oksigen tambahan sesuai indikasi.
Delegatif pemberian diuretik. Menyatakan adanya kongesti paru/pengumpulan sekret menunjukkan kebutuhan untuk intervensi lanjut.
Membersihkan jalan nafas dan memudahkan aliran oksigen.
Membtau mencegah atelektasis dan pneumonia.
Menurunkan komsumsi oksigen/kebutuhan dan meningkatkan ekspansi paru maksimal.
Hipoksemia dapat menjadi berat selama edema paru.
Meningkatkan konsentrasi oksigen alveolar, yang dapat memperbaiki/menurunkan hipoksemia jaringan.
Menurunkan kongesti alveolar, meningkatkan pertukaran gas.

DAFTAR PUSTAKA

Arthur C. Guyton and John E. Hall ( 1997), Buku Ajar Fisiologi Kedokteran Edisi 9, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta

Marylin E. Doengoes, Mary Frances Moorhouse, Alice C. Geissler (2000), Rencana Asuhan Keperawatan: Pedoman Untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien Edisi 3, Peneribit Buku Kedokteran EGC, Jakarta

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites